Negara Khilafah Akan Kembali

Perjuangan untuk menerapkan kembali sistem hukum Islam melalui berdirinya Negara Khilafah mulai meningkat, dan cakupannya telah mendunia. Namun, hambatan-hambatan yang dijumpai jauh lebih berat. Disamping menghadapi dominasi kekuatan negara-negara kafir imperialis, seperti AS, Inggris, Australia, Rusia, India, Perancis, Jerman, Italia dan sekutu-sekutunya; juga adanya penghalang dari penguasa-penguasa di negeri-negeri Muslim yang menjadi kaki tangan negara-negara kafir tersebut. Disamping itu, kesadaran kaum Muslim terhadap ajaran Islam sebagai ideology, yang mencakup akidah dan syariat masih sangat rendah, apalagi keengganan mereka untuk mencermati peristiwa-peristiwa politik dan menerjuninya dengan asas Islam. Mungkinkah Negara Khilafah itu akan kembali lagi untuk yang kedua kalinya?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilontarkan masyarakat yang menyangsikan kembalinya kekuatan Islam, berupa berdirinya kembali Negara Khilafah. Kadangkala juga muncul dari para aktivis dakwah Islam yang mengalami berbagai tekanan, sehingga memunculkan rasa pesimis tentang akan datangnya kemenangan Islam. Untuk itu kita harus mengembalikan kedudukan dan semangat kaum Muslim dengan merenungkan dan mengkaji kembali sumber-sumber syariat Islam yang menjadi dasar seluruh aspek kehidupan kita.

Al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw merupakan sumber hukum Islam, dan sumber berita/informasi yang benar lagi qualified tentang apa yang terjadi, baik sebelum manusia itu tercipta di muka bumi, maupun kelak di masa datang. Diantaranya terdapat nash-nash yang tergolong mubasyirât (berita-berita gembira) yang disampaikan Allah Swt dan diceritakan dalam hadits-hadits Nabi saw. Melalui nash-nash mubasyirât ini kita mampu membangkitkan harapan, membangkitkan seluruh potensi, memupus rasa putus asa, dan menggelorakan perjuangan untuk menegakkan kembali sistem hukum Islam di muka bumi. Sebab, Allah Swt tidak akan pernah mangkir dari janji-Nya.

Yang dimaksud dengan mubasyirât dari Allah Swt adalah janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk menolong mereka, menyempurnakan cahaya-Nya, mengokohkan kedudukan kaum Muslim atas bangsa-bangsa lain di dunia, serta memenangkannya atas semua agama dan ideologi yang ada, meskipun orang-orang kafir berupaya keras menghalang-halanginya dan orang-orang munafik tidak menyukainya. Diantara janji-janji tersebut adalah:

Pertama, janji Allah Swt untuk memenangkan Islam atas seluruh agama dan ideologi yang ada di seluruh dunia. Firman-Nya:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيداً

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkannya atas semua agama. Cukuplah Allah sebagai saksi. (TQS. al-Fath [48]: 28)

 

Menurut tafsir al-Qasimi, yang mengutip penafsiran Ibnu Jarir at-Thabari, yang dimaksud dengan kata ‘agar dimenangkannya atas semua agama’ adalah menggusur seluruh millah (aliran/paham/agama/ideologi/pemikiran-pen) yang ada, sehingga tidak ada lagi dîn yang menyamainya1. Artinya, Allah akan memenangkan Islam dan kaum Muslim atas negara-negara yang saat ini mengemban ideologi kapitalisme, sosialisme-komunisme, maupun ideologi-ideologi lain. Allah Swt mengulang-ulang kata ‘agar dimenangkannya atas semua agama’ di dalam ayat-ayat lain, seperti QS. at-Taubah [9]: 33 dan QS. ash-Shaff [61]: 9).

Kedua, janji Allah untuk meneguhkan Islam dan kaum Muslim, serta membalikkan keadaan yang buruk menjadi baik. Firman Allah Swt:

 

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

 

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh diantara kalian, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Sungguh, Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan Aku dengan sesuatu (apa)pun. Siapa saja yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (TQS. an-Nur [24]: 55)

 

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai berikut: ‘Ini adalah janji Allah Swt kepada Rasul-Nya bahwa Dia akan menjadikan umatnya sebagai para penguasa di muka bumi, yakni para pemimpin dan para wali (penguasa daerah), menjadikan negeri mereka makmur, dan menjadikan umat manusia tunduk kepada mereka. Allah juga akan menggantikan ketakutan mereka dengan rasa aman. Hal itu telah Allah buktikan –segala pujian bagi-Nya- dengan dibebaskannya Makkah, Khaibar, Bahrain, seluruh jazirah Arab dan seluruh wilayah Yaman; dipungutnya jizyah dari kalangan Majusi Hijir dan sebagian wilayah Syam; Hiraklius, penguasa Romawi, memberi Nabi saw hadiah; begitu juga Muqauqis, penguasa Mesir, Iskandariyah; penguasa Oman; dan Najasy, penguasa Habsyah, yang kemudian (daerah-daerah terasebut) dikuasai olkeh para sahabat Rasulullah saw yang mulia2.

Tatkala Rasulullah saw wafat, usaha beliau dilanjutkan oleh Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq ra. Abu Bakar menyempurnakan usaha yang belum selesai, yaitu menjadikan jazirah Arab sebagai pusat kekuatan Islam. Beliau mengirimkan tentaranya ke Persia di bawah pimpinan sahabat Khalid bin Walid ra, yang kemudian mampu membebaskan kawasan tersebut dari dominasi agama Zoroaster (penyembah api). Setelah itu, beliau mengirimkan gelombang tentara yang kedua di bawah pimpinan Abu Ubaidah bin Jarrah ra dan yang lainnya menuju kawasan Syam. Dan gelombang tentara yang ketiga berada di bawah pimpinan Amru bin Ash berangkat menuju Mesir.

Pada masa ke-Khilafahan Abu Bakar ra, daerah-daerah Syam, Basrah, Damaskus, dan negeri-negeri di sekitarnya, seperti Hauran dan lain-lain dapat dibebaskan. Beliau wafat dengan meninggalkan segala kemuliaan yang diperolehnya dari Allah Swt, sementara Allah memberinya ilham –sebagai anugrah untuk umat Islam- dengan pengangkatan Umar al-Faruq sebagai Khalifah setelahnya. Umar bin Khaththab ra menjalankan tugasnya dengan sempurna. Tidak pernah ada di dalam sejarah, setelah periode para Nabi, orang yang sanggup menandinginya dalam hal kekuatan pribadinya dan kesempurnaan keadilannya. Pada masanyalah daerah Syam seluruhnya dapat dibebaskan, begitu pula Mesir dan Persia. Kekaisaran Kisra dapat dikalahkan dengan kekalahan yang amat menghinakan. Sebagian besar kekuatan kerajaan Byzantium di Syam hingga perbatasan Konstantinopel (sekarang kota Istambul-Turki) dapat direbut. Umar menginfakkan harta Kisra dan maupun Kaisar untuk keperluan jihad fi sabilillah, sesuai dengan janji Allah yang telah disampaikan kepada Rasulullah saw.

Pada masa Utsman, kekuasaan Islam telah mencapai penjuru Timur dan Barat. Negeri-negeri di kawasan Maroko (Afrika Utara) dapat dibebaskan hingga ke perbatasan China. Kisra terbunuh dan kerajaannya lenyap untuk selamanya. Kota-kota di Irak, Khurasan dan Ahwaz dapat dibebaskan, sehingga harta kharaj dari seluruh penjuru negeri yang dibuka melalui jihad fi sabililah pun mengalir deras, dan dikumpukan ke hadapan Khalifah Utsman bin Affan ra. Hal itu berkat bacaan, kajian dan upayanya untuk menyatukan umat Islam dalam (bacaan) dan kajian al-Quran. Benarlah kiranya hadits Rasulullah saw:

إن الله زوى لي الأرض فرأيت مشارق و مغاربها وسيبلغ ملك أمتي ما زوى لي منها

Allah telah memperlihatkan kepadaku bagian Timur dan Barat bumi, dan kekuasaan umatku akan mencakup seluruh wilayah yang aku lihat itu.

 

Saat ini (yakni masa hidupnya Ibnu Katsir-pen) kita menyaksikan apa yang telah Allah janjikan kepada Rasul-Nya. Maha besar Allah dan Rasul-Nya. Kita memohon agar diberikan keimanan kepada-Nya dan Rasul-Nya, serta bersyukur dengan cara yang diridhai Allah3.

Ketiga, janji Allah Swt untuk senanitiasa membela, menyertai dan menyelamatkan orang-orang mukmin. Firman-Nya:

 

ثُمَّ نُنَجِّي رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُواْ كَذَلِكَ حَقّاً عَلَيْنَا نُنجِ الْمُؤْمِنِينَ

 

Demikianlah, menjadi kewajiban atas Kami untuk menyelamatkan orang-orang mukmin. (TQS. Yunus [10]: 103)

Makna serupa dijumpai dalam ayat-ayat lain, seperti QS. ar-Rum [30]: 47; QS. al-Hajj [22]: 38; dan QS. al-Anfal [8]: 19.

Keempat, Allah akan mendatangkan kaum yang dicintai-Nya. Jika perubahan tidak dapat dilakukan karena putus asanya masyarakat, ketidakpedulian kaum Muslim terhadap kondisi mereka sendiri, sebagian malah bersikap munafik, bahkan murtad dan bergabung menjadi sekutu orang-orang zhalim dan negara-negara kafir, serta rela hidup terhina di bawah dominasi kekuatan negara-negara kafir, maka Allah Swt akan mendatangkan (mengganti generasi sebelumnya dengan) generasi mukmin yang keimanannya kepada Allah sangat kuat, cintanya kepada Allah melebihi kecintaannya terhadap apa pun di dunia, yang ketaatan dan perjuangannya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi tidak akan pernah tergetarkan oleh tekanan dan serangan orang-orang yang memusuhi mereka. Allah Swt berfirman:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ مَن يَرْتَدَّ مِنكُمْ عَن دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ وَلاَ يَخَافُونَ لَوْمَةَ لآئِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللّهِ يُؤْتِيهِ مَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

 

Hai orang-orang yang beriman, siapa saja diantara kalian murtad dari agamanya, maka kelak Alla akan mendatangkan suatu kaum yang Allah cintai dan mereka pun mencintai-Nya; yang bersikap lembut terhadap orang mukmin dan keras terhadap orang-orang kafir; yang berjihad di jalan Allah; dan yang tidak takut terhadap celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha tahu. (TQS. al-Maidah [5]: 54)

 

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut4: ‘Allah Swt mengabarkan kekuasaan-Nya yang besar. Siapa pun yang tidak mau menolong agama Allah dan menjalankan syariat-Nya, maka Allah akan menggantikan mereka dengan orang-orang yang lebih baik, lebih kuat, dan lebih lurus pendiriannya dari pada mereka (yang sebelumnya). Allah Swt berfirman:

 

وَإِن تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْماً غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُمْ

 

Jika kalian berpaling, niscaya Dia akan mengganti kalian dengan kaum yang lain, dan mereka tidak seperti kalian. (TQS. Muhammad [47]: 38)

 

إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ وَيَأْتِ بِآخَرِينَ

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia memusnahkan kalian, wahai manusia, dan Dia mendatangkan umat lain (sebagai pengganti kalian). (TQS. an-Nisa [4]: 133)

 

إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ وَيَأْتِ بِخَلْقٍ جَدِيدٍ

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan kalian dan mengganti kalian dengan makhluk yang baru. (TQS. Ibrahim [14]: 19)

 

Masih banyak ayat-ayat al-Quran lainnya yang termasuk mubasyirât (berita-berita gembira bagi kaum Muslim). Disamping itu terdapat pula hadits-hadits yang menggambarkan lebih rinci berita tentang kemenangan Islam, tersebar luasnya Islam ke seluruh penjuru dunia, dan akan munculnya kembali negara Khilafah yang mengikuti manhaj Nabi saw. Teks-teks hadits tersebut antara lain:

Pertama, berita mengenai tersebar luasnya Islam ke seluruh penjuru dunia. Sabda Rasulullah saw:

ليبلغن هذا الأمر ما بلغ اليل و النهار ولا يترك الله بيت مدر ولا وبر إلا أدخله الله هذا الدين بعز عزيز أو بذل ذليل عز يعز الله به الإسلام وذل يذل الله به الكفر

Islam pasti akan mencapai wilayah yang diliputi siang dan malam. Allah tidak akan membiarkan rumah yang megah maupun yang sederhana, melainkan akan memasukkan agama ini ke dalamnya, dengan memuliakan orang-orang yang mulia dan menginakan orang-orang yang hina. Mulia karena Allah memuliakannya dengan Islam. Hina karena Allah menghinakannya akibat kekafirannya. (HR. Ahmad)

 

Kedua, ditaklukkannya Konstantionopel dan Roma (Vatikan). Abu Qubail bertutur: Tatkala kami sedang bersama-sama dengan Amr bin Ash, ditanyakan: ‘Kota manakah yang akan dibebaskan (oleh kaum Muslim-pen) terlebih dahulu, Konstantinopel ataukah Roma? Untuk memperoleh jawabannya, Abdullah lalu mengambil kotaknya dan mengeluarkan manuskrip, seraya berkata: ‘Tatkala kami bersama-sama Rasulullah saw kami pernah mencatat pertanyaan yang diajukan kepada Rasulullah saw, kota manakah yang terlebih dahulu dibebaskan Islam, Konstantinopel ataukah Roma? Rasulullah saw menjawab:

مدينة هرقل تفتح أولا

Kota Hiraklius-lah yang akan dibebaskan terlebih dahulu. (HR. Ahmad)

 

Yang dimaksudkan dengan kota Hiraklius adalah ibukota kerajaan Byzantium Timur, yaitu Konstantinopel. Konstantinopel pada akhirnya dibebaskan oleh kaum Muslim di bawah pimpinan Sultan Muhammad al-Fatih pada tahun 1453 M (857 H), dan menjadi ibukota ke-Khilafahan Islam Utsmaniyah.

Berita gembira dari Rasulullah saw telah terbuktikan dengan dibebaskannya Konstantinopel. Tinggal kota Roma (Vatikan) yang saat ini menjadi pusat agama Kristen yang belum dibebaskan oleh pasukan kaum Muslim. Pembebasan kota Roma akan segera tiba di bawah bendera Negara Khilafah Islamiyah, insya Allah.

Ketiga, ditaklukkannya orang-orang Yahudi. Saat ini kaum Yahudi Zionis membangun kekuataannya dan bercokol di atas tanah milik kaum Muslim yang dirampasnya. Perlawanan kaum Muslim terhadap mereka masih terbatas, dan permasalahannya dianggap oleh sebagian besar umat bukan sebagai persoalan kaum Muslim seluruhnya. Di saat yang sama, kita tidak bisa berharap kepada para penguasa muslim yang penakut, tidak mau memberikan dukungan riil, pertolongan, apalagi menghancurkan institusi Yahudi. Namun demikian, bagi orang-orang yang yakin kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, kemenangan kaum Muslim atas Yahudi merupakan janji yang pasti. Tentu saja, saat kemenangan tiba, kaum Muslim berada di bawah kepemimpinan seorang Khalifah yang adil, bukan berada di bawah bendera negara-negara nasionalis yang saat ini diusung oleh para penguasa Muslim yang zhalim, yang lebih suka tunduk kepada tekanan negara-negara kafir asing daripada taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Rasulullah saw bersabda:

لا تقوم الساعة حتى يقاتل المسلمين اليهود فيقتلهم المسلمون حتى يختبئ اليهود من وراء الحجر والشجر فيقول الحجر والشجر يا مسلم يا عبد الله هذا يهودي خلفي فتعالى فاقتله

Tidak akan terjadi hari Kiamat sampai kau Muslim memerangi kaum Yahudi, hingga kaum Yahudi itu bersembunyi di belkang bebatuan dan pepohonan. Lalu, batu dan pohon itu berseru: ‘Wahai (kaum) Muslim, wahai hamba Allah, ini ada orang Yahudi bersembunyi di belakangku, kemari dan bunuhlah’. (HR. Muslim)

 

Keempat, kembalinya Negara Khilafah yang mengikuti manhaj Nabi saw. Rasulullah saw telah memberitakan akan kembalinya kekuasaan Negara Khilafah. Sabda Rasulullah saw:

تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء ما يرفعها ثم تكون ملكا جبريا فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت

Masa kenabian akan berlangsung di tengah-tengah kalian sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa ke-Khilafahan yang mengikuti manhaj kenabian selama masa yang diikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa kekuasaan yang zhalim (mulkan ‘adlan) selama masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Lalu datang masa kekuasan diktator bengis (mulkan jabariyyan) selam masa yang dikehendaki Allah. Kemudian Allah mengangkatnya jika menghendakinya. Setelah itu akan datang (kembali) masa ke-Khilafahan yang mengikuti manhaj kenabian. Kemudian Rasulullah terdiam. (HR. Ahmad)

 

Yang dimaksud dengan mulkan ‘adlan adalah kekuasaan para Khalifah sesudah Khulafa ar-Rasyidin, yaitu masa ke-Khilafahan Umayyah, Abbasiyyah, hingga Turki Utsmani, dimana di dalamnya terdapat keburukan-keburukan penerapan syariat Islam, tetapi tetap menjadikan Islam sebagai asas dan sistem hukum/pemerintahannya. Sedangkan yang dimaksud dengan mulkan jabariyyan adalah masa kekuasaan kaum Muslim setelah runtuhnya sistem ke-Khilafahan Utsmaniyah. Yaitu masa yang dipenuhi oleh para diktator (para penguasa muslim) yang tidak mau menjalankan sistem pemerintahan (dan hukum) Islam; yang melalaikan dan memakan hak-hak kaum Muslim; yang melayani kepentingan negara-negara kafir; yang dikelilingi oleh orang-orang fasik dan munafik; yang tidak memperjuangkan kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Masa mulkan jabariyyan adalah masa dimana kita hidup sekarang ini, yaitu masa yang paling buruk yang pernah ditemui oleh kaum Muslim sepanjang sejarah peradaban Islam.

Walaupun demikian, Rasulullah saw mengabarkan kepada kita bahwa setelah periode paling menakutkan dan paling kelam di dalam sejarah Islam dan kaum Muslim, akan datang kembali masa ke-Khilafahan yang mengikuti manhaj Nabi saw.

Dengan demikian, kaum Muslim yang memahami berita dan janji-janji Allah Swt dan Rasul-Nya tidak memiliki alasan untuk patah arang dan putus asa di dalam perjuangan menegakkan kembali sistem (hukum) Islam melalui tegaknya Negara Khilafah. Betapapun kerasnya permusuhan dan liciknya persekongkolan penguasa-penguasa muslim munafik dengan negara-negara kafir, hal itu tidak akan menggugurkan janji Allah Swt dan Rasul-Nya kepada kaum Muslim sedikitpun. Betapapun kuatnya tekanan musuh-musuh Islam dan sekutunya untuk membasmi perjuangan menegakkan kembali sistem hukum Islam melalui berdirinya Negara Khilafah, hal itu tidak akan mampu menggetarkan semangat dan keyakinan para pengemban dakwah Islam. Berita dan janji-janji Allah adalah pasti!

Oleh karena itu, di depan kita terdapat dua pilihan yang sudah jelas: apakah kita saat ini hendak bergabung dan menjadi barisan dari kaum yang dimuliakan oleh Allah karena membela agama-Nya; ataukah (kita termasuk kelompok yang) berdiam diri dan (lebih suka) tetap terhina di bawah kungkungan sistem hukum dan pemerintahan kufur yang dikangkangi oleh dominasi negara-negara kafir? Maha benar Allah dengan firman-Nya:

 

يُرِيدُونَ أَن يُطْفِؤُواْ نُورَ اللّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللّهُ إِلاَّ أَن يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

 

Mereka ingin memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya. (TQS. at-taubah [9]: 32)


1 al-Qasimi., Min Mahasini at-Takwil (mukhtashar).,p.514., Darun Nafais

2 Ibnu Katsir., Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim., jilid III/365., Darul Fikr

3 Ibnu Katsir., op cit., jilid III/365-366

4 Ibnu Katsir., op cit., jilid II/87-88

 

sumber: hizbut tahrir Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: