Pelarangan Cadar, Jilbab, Menara Masjid & Usulan Salib Pada Bendera Eropa, Perang Salib Mulai Mengglobal?

Perang Salib mulai mengglobal. Selasa (1/12/09), seorang pejabat pemerintah Italia secara tegas dan nyata mengajukan usul untuk menambah gambar salib di bendera nasional Italia guna mempertahankan “identitas Kekristenan” Eropa melawan Islam. Ide ini muncul hanya berselang dua hari setelah Swiss melarang pembangunan menara masjid.

Berada di urutan kedua setelah agama Kristen, ternyata tidak lantas menjadikan Islam bisa diterima oleh mayoritas masyarakat Swiss. Berbagai isu seputar kampanye anti-Islam di negara Eropa Tengah tersebut akhir-akhir ini memang kerap menghiasi pemberitaan di sejumlah media-media internasional, terutama yang berasal dari negara Muslim. Bahkan, yang terbaru, umat Islam di Swiss mengalami kesulitan saat harus membangun masjid, karena menaranya dianggap bertentangan dengan simbol demokrasi ala Barat.

Ketakutan Eropa terhadap Islam bukanlah isapan jempol belaka. Tindakan-tindakan nyata yang dilakukan warga Eropa merupakan wujud representasi ketakutan mereka terhadap Islam. Marwa el Sherbini merupakan contoh nyata dan paling terkini. Ia menjadi pahlawan dan martir Islam atas keistiqomahannya mempertahankan jilbab sebelum syahidah ditikam seorang warga Jerman keturunan Rusia di pengadilan.

Sherbini ditikam 18 kali hingga meninggal, saat dia bersiap memberikan kesaksian penyerangan atas dirinya di sebuah pengadilan di Dresden, Jerman. Suaminya, Elwi Ali Okaz, yang mencoba melindunginya mengalami cedera serius.

Prancis yang menjunjung semboyan Libertie, Egalite, dan Fraternity pun justru menjadi negara terdepan yang membuat aturan penolakan terhadap jilbab dan cadar.

Di Swiss, berada di urutan kedua setelah agama Kristen, ternyata tidak lantas menjadikan Islam bisa diterima oleh mayoritas masyarakat Swiss. Berbagai isu seputar kampanye anti-Islam di negara Eropa Tengah tersebut akhir-akhir ini memang kerap menghiasi pemberitaan di sejumlah media-media internasional, terutama yang berasal dari negara Muslim. Terakhir, umat Islam di Swiss mengalami kesulitan saat harus membangun masjid, karena menaranya dianggap bertentangan dengan simbol demokrasi ala Barat.

Padahal, keberadaan Islam di wilayah Swiss sudah terlacak sekitar abad 9-10 Masehi. Ajaran Islam ketika itu dibawa oleh Saracen, yakni sekelompok penjelajah Muslim pada masa itu. Asal-usul dan tujuan awal dari kelompok ini masih menjadi misteri, namun mereka bergerak dari basis di Provence, sebelah selatan Prancis yang menuju utara Italia. Di sebelah timur mereka menjelajah hingga Chur dan hampir mencapai Saint Gallen sebelum kemudian kembali ke wilayah Barat.

Penolakan terhadap simbol-simbol komunitas Muslim juga pernah terjadi pada 2007 silam. Saat itu dewan Kota Bern menolak rencana untuk membangun salah satu Islamic Center terbesar di Eropa. Bahkan, Partai Rakyat Swiss (SVP) dan the Federal Democratic Union mengumpulkan tanda tangan guna mendukung pelarangan pembangunan pusat kebudayaan Islam ini.

Partai Rakyat Swiss (SVP) juga akan berusaha untuk melarang burqa (pakaian longgar yang menutupi seluruh tubuh dan wajah–red), bangunan makam Muslim, dan pembebasan siswa Muslim untuk ikut belajar berenang yang campur dengan laki-laki dan perempuan. ”Perkawinan paksa, khitan perempuan, dispensasi khusus dari pelajaran berenang, dan burqa berada di daftar puncak,” tegasnya.

Pemimpin SVP, Toni Brunner, juga mengatakan, pihaknya akan berupaya untuk melarang jilbab, yang dalam Islam merupakan pakaian wajib untuk perempuan, di tempat kerja. Pemerintah Swiss pada Oktober lalu telah mengumumkan rencana memperketat hukum untuk menindak perkawinan paksa. Sementara Partai Demokratik Kristen telah mendorong untuk sebuah larangan burqa.

Oleh karenanya, wajarlah jika seorang anggota pejabat pemerintahan Italia ikut-ikutan mengusulkan sebuah upaya penghambatan Islam dengan usul penambahan gambar salib pada bendera Italia.

“Sayangnya, kita menghadapi serangan kuat terhadap identitas kita dari agama yang tidak toleran seperti Islam,” ujar Roberto Castelli, deputi menteri infrastruktur dan transportasi, seperti dilaporkan oleh kantor berita AKI Selasa (1/12/09).

Castelli, anggota Liga Utara dari sayap kanan, menginginkan penambahan gambar salib pada bendera Italia. “Saya harap partai di mana saya menjadi anggota bersedia mempertimbangkan usulan ini.”

Bendera Italia terdiri dari tiga warnanya, hijau, putih, dan merah. Warna hijau mewakili dataran dan perbukitan Swiss, putih mewakili pegunungan Alpen dengan puncaknya yang diselimuti salju, dan merah mewakili pertumpahan darah dalam perang kemerdekaan.

Liga Utara telah dituduh bersikap rasis dengan banyak kritik yang menyebutnya sebagai BNP dari Italia, merujuk pada partai sayap kanan Inggris. Menggambarkan dirinya sebagai pembela akar Kristiani Italia, partai itu memulai misinya dalam pemerintahan Berlusconi di bulan Mei 2008.

Tahun lalu, Liga ini merayakan keberhasilan kampanyenya menghentikan pembangunan sebuah Masjid di kota Bologna. Anggota parlemen Mario Borghezio tahun lalu menerobos masuk ke dalam sebuah gereja di kota Genoa dan meneriakkan pernyataan anti-Islam.

Namun, usul Castelli itu mendapat tentangan dari anggota legislatif Italia. Juru bicara parlemen, Gianfranco Fini, dari partai PDL menyebut usul itu bersifat mengganggu dan menghasut.

Angelo Bonelli, pemimpin partai Federasi Hijau, juga mengkritik usulan tersebut. “Castelli ingin meletakkan salib di bendera? Lalu kapan kita akan memulai perang salib untuk membebaskan tanah suci?” ujar Bonelli dengan nada sinis.

Identitas Kristen

Castelli mengklaim bahwa salib adalah bagian dari “identitas Eropa yang sebenarnya”. Menurutnya, penambahan salib pada bendera Italia akan menegaskan kembali identitas Kristen.

“Eropa memiliki hak untuk menjaga identitasnya sendiri, menghormati akar orang lain, namun penting untuk kembali ke akar kita,” ujar dia.

“Saya yakin Eropa memiliki hak untuk mengakui identitas sebenarnya yang hampir punah,” imbuh dia.

Usulan dari duputi menteri sayap kanan itu mendapat dukungan dari Menlu Italia, Franco Frattini. “Sembilan negara Eropa telah memiliki gambar salib di benderanya, ini adalah sebuah usul yang umum,” ujar Frattini.

Awal bulan lalu, Pengadilan HAM Eropa melarang salib di sekolah-sekolah Italia. Pengadilan mengatakan bahwa salib di dalam sekolah melanggar hak orangtua untuk mendidik anak-anaknya sesuai dengan keyakinan mereka dan hak anak-anak akan kebebasan beragama.

Akankah Perang Salib akan segera mengglobal atau justru cahaya Islam semakin bersinar terang dari arah Barat di tengah himpitan orang-orang kafir Eropa? Wallahu a’lam.

Sumber : muslimdaily.net

3 Tanggapan

  1. Di dalam Kitab Tafsir Jalalain, karya Jalaluddin ibn Muhammad Al-Mahalli رحمه الله dan Jalaluddin ibn Abi Bakrin as-Suyuthi رحمه الله; digunakan di hampir seluruh dunia dan pondok-pondok pesantren di Indonesia sejak masa dahulu; disebutkan:

     Tafsir QS. An-Nuur : 31: وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا (…dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya), yaitu :
    “wajah dan kedua telapak tangan, maka dibolehkan terlihat lelaki asing jika tidak takut terjadi fitnah; pada satu pendapat. Pendapat kedua, diharamkan terlihat (wajah dan telapak tangan) karena dapat mengundang fitnah, (pendapat ini) kuat untuk memutus pintu fitnah itu.”

     Tafsir QS.Al-Ahzaab: 59 tentang jilbab, يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…), yaitu :
    “Bentuk jamak dari jilbab, yaitu pakaian besar yang menutupi perempuan, yaitu menurunkan sebagiannya ke atas wajah-wajah mereka ketika keluar untuk suatu keperluan hingga tidak menampakkannya kecuali hanya satu mata saja.”

  2. Nahdlatul Ulama (NU) menyatakan bahwa cadar itu WAJIB.

    Fatwa ini membuktikan bahwa cadar telah dikenal di kalangan kaum muslimin Indonesia. Jadi cadar bukanlah barang baru, asing, atau radikal dan bukan pula identitas khusus kelompok tertentu, ajaran teroris apalagi dikatakan sebagai bukan ajaran Islam atau aliran sesat.

    Sebaliknya, cadar adalah ajaran Islam, ajaran Rasulullah , ajaran para sahabatnya dan ajaran para ulama ahlussunnah wal jama’ah ; maka dari itu tidak boleh dan tidak patut seorang muslim mengolok-oloknya, menghinanya atau melecehkannya.

    MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
    Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang
    HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi – penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.

    LIHAT REFERENSI :
    Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh; Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: