Inti Sari Harun Yahya: Membedakan Yahudi dan Zionisme

Intisari Satu

Sejak lama saya membaca-baca berbagai buku dan artikel yang ditulis oleh seorang Kreasionis Muslim asal Turki, Harun Yahya atau nama aslinya Adnan Oktar. Perhatian saya tertumpu pada sebuah artikel yang ada disitus harunyahya.com, yang menjelaskan perbedaan antara zionisme dengan agama Yahudi itu sendiri.

Seringkali kita menyamaratakan semua orang Yahudi sebagai pendukung zionis Israel dan menyemai kebencian kepada mereka, terutama jika dikaitkan dengan pendudukan, penjajahan, diskriminasi serta penindasan kaum zionis terhadap warga Palestina (bahkan dengan sesama Yahudinya sekalipun). Intisari yang saya dapat dari membaca artikel tersebut dan ingin saya bagikan kepada pembaca semua adalah sebagai berikut:

Pembantaian massal tentara zionis Israel dibantu oleh milisi Kristen Libanon Selatan di kamp pengungsi Shabra dan Shatila pada musim panas tahun 1982, mengundang protes dan kecaman dari berbagai penjuru dunia. Bahkan dari dalam negeri Israel sendiripun, protes itu berkumandang. Malahan seorang professor dari Universitas Tel Aviv, Profesor Benjamin Cohen menyatakan kekecewaan serta amarahnya dalam kasus ini dan salah satu kalimatnya dia mengatakan bahwa keberhasilan terbesar zionisme adalah mencerabut Yahudi dari akar aslinya. Bukan hanya Benjamin Cohen saja, namun para cendekiawan Yahudi dalam Israel sendiripun mengecam habis-habisan. Hmm…bahkan gerakan-gerakan anti zionis kini kian subur di Israel meskipun tidak terekspos media.

Politik apartheid diterapkan di Israel, dan kritik bukan hanya ditujukan pada kebijakan-kebijakan Israel, namun juga zionisme atheis sebagai ideologi resmi negara juga dikecam. Oleh karenanya bagi Umat Islam, yang patut dikritisi dan dikecam bukanlah orang atau agama Yahudi, melainkan zionisme atheis tersebut, dalam artian tidak semua orang Yahudi itu zionis.

Intisari Kedua

Pada dasarnya setelah tahun 70 Masehi, orang Yahudi tersebar ke berbagai penjuru dunia dan lambat laun mengadaptasi bahasa bahkan sebagian menganut agama negara yang ditempatinya. Mayoritas orang Yahudi sendiri memandang diri mereka sebagai komunitas keagamaan, bukan sebagai satu ras atau kebangsaan.

Namun pada abad ke-19, gagasan rasisme muncul dengan salah satunya dilandasi oleh Darwinisme. Gagasan ini didukung oleh banyak masyarakat barat pada saat itu dan zionisme muncul sebagai bentuk rasisme dikalangan Yahudi. Zionisme ini muncul dikalangan Yahudi yang tidak mempelajari agamanya, bahkan kebanyakan berasal dari kalangan Yahudi sekuler atau atheis yang memandang Yahudi sebagai satu ras, bukan satu kelompok keagamaan, dan dalam pandangan zionisme jenis ini, orang Yahudi tidak dapat hidup berdampingan dengan kelompok atau ras lain sehingga harus pindah ke satu wilayah. Semula Uganda, namun kemudian beralih ke Palestina. Gagasan bahwa semua Yahudi harus berkumpul ini tak selamanya mendapat tanggapan positif, namun justru banyak penolakan dan pengabaian bahkan oleh orang Yahudi sendiri.

Harun Yahya dalam artikel tersebut menggarisbawahi adanya dua bentuk zionisme yang hidup saat ini, yaitu :

a.      Zionisme agamis

Maksudnya, zionisme yang dianut oleh orang-orang Yahudi yang agamis dan berpegang pada Kitab sucinya. Kelompok ini kembali ke tanah suci untuk hidup berdampingan dengan Muslim dan Kristen, beribadah ditanah leluhurnya serta berniaga disana berlandaskan toleransi dan perdamaian. Sebagaimana yang terungkap dalam Surat Al-Maidah ayat 20-21. Zionisme yang jenis ini bukanlah ancaman.

b.      Zionisme atheis atau Godless Zionism

Zionisme semacam ini yang membahayakan. Karena tidak berlandaskan ketuhanan dan agama, namun berangkat dari Darwinisme, sudut pandang materialistis dan tentu menjadi ancaman bagi siapapun termasuk bagi orang Yahudi agamis sendiri. Zionisme jenis ini yang sekarang diterapkan sehingga pertumpahan darah dan penindasan terus menerus terjadi, yang kini makin dikecam seluruh dunia.

Jadi menurut kesimpulan yang diambil dari artikel tersebut, haruslah dibedakan antara Yahudi dengan zionis atheis. Tidak semua orang Yahudi berpegangan pada zionisme ini, karena orang-orang zionis hanyalah minoritas ditengah komunitas Yahudi dunia. Banyak sekali orang Yahudi yang menuntut pemerintah zionis Israel untuk menarik diri dari wilayah pendudukan dan menghentikan pemukiman Yahudi disana. Dari sini yang perlu diperangi bukanlah orang Yahudi yang berpegang pada agamanya, namun zionisme atheis itu sendiri.

Sumber : http://bambangpriantono.multiply.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: