Ustadz Fadlan : Membawa Islam ke Pedalaman Papua

Memakai gamis putih panjang dan dagu yang ditumbuhi jenggot yang tebal, Fadzlan Rabbani Al-Garamatan berjalan memasuki desa-desa terpencil di pedalaman Papua Barat untuk menyebarkan Islam.

“Saya menawarkan bentuk kehidupan yang berbeda kepada para penganut animisme dan non-muslim di sini dengan menggunakan pendekatan kemanusia,” tutur Ustadz Fadzlan kepada iol dalam suatu wawancara.

Papua Barat yang dulu merupakan bagian dari Irian Jaya adalah provinsi paling jarang penduduknya di Indonesia. Kira-kira 2,6 juta orang berdiam dalam provinsi di ujung timur Indonesia tersebut.Menurut data kependudukan, umat Islam mengisi 21 % dari keseluruhan populasinya.

Ustadz Fadzlan, 40 tahun, sudah sejak tahun 1990 keluar masuk daerah terpencil untuk menyebarkan indahnya ajarana Islam. Beliau coba mengajarkan beberapa ajaran Islam yang mudah mengenai  kehidupan sehari-hari mulai dari kebersihan, kesehatan, kesopanan dan lainnya.

“Saya berjalan selama 12 hari untuk mencapai satu desa yang terpenci; dan saay mereka mulai untuk bersyahadat, saya pun menangis.”

Dia coba menceritakan pengalamannya mengunjungi suatu daerah dimana para penduduknya sangat curiga padanya.

“Beberapa dari mereka melempari saya dengan batu dan bahkan dengan panah, namun sekarang meraka bersama kami.

Melalui Yayasan Al-Fafti Kaffa Nusantara, Ustadz Fadlan mengatakan bahwa pihaknya telah membangun 900 masjid di sana, ditambah dengan pelayanan kesehatan dan pendidikan tentang Islam.

Paling tidak 10,000 orang berhasil diajaknya untuk memeluk Islam.

Ditambahkannya pula, keberadaan Islam di Papua begitu membantu untuk mencegah separatisme, karena menurutnya saat mereka masuk Islam, aspirasi untuk menjadi individu yang bebas juga dikenalkan. Kebebasan dari kemusyrikan dan kebodohan yang selama ini identik dengan rakyat dari Papua.

“Paling tidak seratus sembilan kepala suku telah masuk Islam. Tiap kepala suku memimpin 500 penduduk lokal.

Lahir dari keluarga Muslim, 17 Mei 1969 di Patipi, Fak-fak, sejak kecil dia sudah belajar Islam. Ayahnya adalah guru SD, juga guru mengaji di kampungnya. `’Kami di Irian, khususnya di kampung kami, ketika masuk SD kelas 1 sudah harus belajar Alquran,” tuturnya.

Pengetahuan ilmu agamanya kian dalam ketika kuliah dan aktif di berbagai organisasi keagamaan di Makassar dan Jawa. Anak ketiga dari tujuh bersaudara ini akhirnya memilih jalan dakwah. Dia mendirikan Yayasan Al Fatih Kaaffah Nusantara.

Melalui lembaga sosial dan pembinaan sumber daya manusia ini, Ustadz Fadzlan –begitu ia kerap disapa– mengenalkan Islam kepada masyarakat Irian sampai ke pelosok. Dia pun mengembangkan potensi dan sumber daya yang ada, mencarikan kesempatan anak-anak setempat mengenyam pendidikan di luar Irian.
muslimdaily.net

3 Tanggapan

  1. subhanallah perjuangan ust,fadlan moga Allah SWT memberikan balasan Surga Firdaus untuknya,beliau bagaikan bilal yang hidupkan kembali

    semangat ust.fadlan

  2. barakallahu fiika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: