Kisah Dakwah Papua

Gema takbir seantero tanah Papua….

Ini kisah nyata. Dikisahkan oleh seorang da’i yang berda’wah di Papua. Beliau asli Papua, tepatnya Fak Fak.  ust. Fadlan. Beliau berkesempatan hadir di Daarut Tauhid dan menceritakan ini ke jamaah sholat Subuh.

Sungguh luar biasa perjuangan da’wah di sana (Papua). Walau demikian, tak sedikit orang Papua yang masuk Islam. Ada banyak kerajaan Islam di sana (suku-suku yang beragama Islam). Baik yang ada di pesisir pantai maupun di atas gunung. Banyak kisah da’wah yang menggugah. Modal da’wah yang terbilang sederhana yang menjadi pintu hidayah. Sabun, shampo, pakaian dan lain sebagainya.

Ada satu kisah yang luar biasa. Suatu waktu, ust Fadlan dan kawan-kawan beliau berniat tuk da’wah ke daerah pegunungan Timika. yang beliau tau adalah suku di sana sangat keras. Bahkan panah pun bersiaga menyambut orang tak dikenal yang masuk ke daerah tersebut. Berawal dari kota, ust Fadlan meyakinkan kawan-kawannya yang berjumlah 30 orang. “apakah kalian siap syahid?” dari 30 orang tersebut hanya 6 orang yang siap. ke-enam orang tersebut naik gunung menempuh jarak yang terbilang sangat jauh. 4 hari waktu tempuh. Saat pada jarak 100 meter dari perbatasan. beliau meyakinkan lagi “apakah kalian siap syahid?”. jawaban kawan-kawan beliau masih belum berubah. jarak 75 meter beliau berpesan “kalau saya kena panah, kalian lari saja. tak usah pikirkan saya” jarak kurang lebih 50 meter, panah pertama menancap di tubuh bagian kanan, kemudian di ikuti panah berikutnya yang menancap pada bagian tubuh sebelah kiri. beliau terjatuh. Tapi semangat da’wah tidak menyurutkan semangat beliau. ada bisikan2 yang membuat beliau bangkit. mencabut panah-panah tersebut dan membakar pisau kemudian ditusukkan ke luka itu agar racunnya tidak bekerja. karena klo tidak demikan, maka racun bisa membunuh beliau. kawan-kawan beliau telah lari meninggalkan beliau. beliau bangkit dan mendatangi orang yang memanah beliau yang tak lain adalah kepala suku. Beliau jabat tangat dengan kepala suku tersebut dan berkata “Terimakasih bapa. maafkan anak tidak boleh masuk daerah bapak. terimakasih bapa”. kemudian beliau pergi. Namun si bapak tadi malah menangis. “Kenapa bapa menangis?”.”Bapa harus obati anak”. akhirnya si bapak tapi mengantar ust Fadhlan turun ke Kota.

Di kota beliau bertemu dengan kawan-kawan beliau dan mereka memutuskan untuk pergi ke Makassar untuk berobat. di belilah 3 buah tiket. karena uang hanya cukup membeli 3 tiket. namun masalahnya adalah si kepala suku tadi bersikeras ingin ikut. karen beliau bertekat tuk mengobati ust Fadhlan. namun tak ada lagi uang tuk beli tiket. tapi pertolongan ALLAH sangat dekat. Datanglah orang yang tak dikenal memberi uang 1,5 juta rupiah. Subhanallah. subhanallah. akhirnya berangkatlah mereka ke Makassar. Selepas ust. Fadhlan sembuh, beliau melanjutkan kerja da’wah beliau dengan mengisi pengajian dari mesjid ke mesjid. Dan kepa suku itupun ikut kemana pun ust. fadhlan berda’wah. setiap waktu sholat tiba, kepala suku tadi di suruh menunggu di luar. sampau hari ke tujuh si kepala suku itu marah. “kenapa saya di suruh keluar, saya juga mau ikut”. ust Fadhlan dengan bijak menjawab “bapa tidak boleh masuk islam secara dipaksa, bapa harus belajar dulu”. Selama tiga bulan kepala suku tersebut ikut ust Fadhlan berda’wah. akhirnya ust. Fadhlan mengantarkan kepala suku itu pulang dengan membekalinya dengan alat kebersihan, mesin air dsb. beberapa hari perjalanan naik gunung. dan beberapa hari berselang mereka turun ke Kota dengan membawa 39 orang yang ingin masuk Islam. SubhanALLAH..

Biasanya, jika kepala sukunya masuk Islam, maka satu suku tersebut akan masuk Islam. seperti kisah berikut yang mengsilkan 3000 mualaf. Ust. Fadlan dan kawan-kawan jaulah ke sebuah suku. Beliau bersilaturahi sambil mengajari suku tersebut mandi. setibanya sholat dzuhur, ust. Fadhlan mohon izin tuk melaksanakan sholat Dzuhur terlebih dahulu. Sholat dilakukan di atas rumah panggung tanpa dinding. Sementar itu, suku tersebut menunggu di bawah. Saat takbirotul ihram di kumandangkan, si suku tersebut langusng mengitari mereka macam orang mengitari ka’bah. Mereka perhatikan hingga akhir sholat. selepas sholat, kepala suku langsung bertanya kepada ust. Fadhlan. pertanyaannya macam-macam “kenapa anak habis angkat tangan, mulutnya bicara-bicara?”,”Mengapa anak bungkuk-bungkuk badan?”,”Mengapa anak mencium papan?”,”mengapa anak tengok kanan dan kiri sambil mulutnya bicara-bicara?”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut di jawab oleh ust. Fadhlan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh mereka. saat ust. Fadhlan ingin melanjutkan belajar mandi buat mereka, si kepala suku bilang “nanti dulu belajar mandi, kita belajar yang ini (Islam) dulu”. dan akhirnya mereka masuk Islam. kurang lebih 3000 orang. Hal yang pertama ust Fadhlan lakukan bersama kawan-kawan beliau adalah mengganti nama-nama suku tersbut menjadi nama-nama yang Islami.

Sekarang, AlhamduliLLAH sudah banyak orang Islam di Papua. Yang mereka butuhkan adalah pakaian (untuk akhwat khususnya), sabun, shampo dan alat-alat yang mendukung da’wah di Papua. Disisi lain ada hal lucu. Waktu rame-ramenya isu RUU Pornorafi, ternyata ustad Fadhlan berkesempatan ngadain aksi dengan membawa akhwat-akhwat dari Papua yang telah berhijab. Mereka membawa spanduk yang bertuliskan “Orang jawa baru belajar telanjang, kita sudah pengalaman”

Semoga ALLAH senantiasa memberikan pertolongan untuk Da’i-Da’i yang berda’wah di sana (Papua)

Setelah googling eh dapet link http://dakwahafkn.wordpress.com. setelah dicocokkan dengan ketua yayasan yang ngelola blog ini, inilah blog kelompok da’wah tersebut. ALLAHUAKBAR…ALLAHUAKBAR…

wahied
http://lelakisejarah.multiply.com

ikadza-balikpapan.blogspot.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: